Penjualan Anak Sendiri


Di pagi hari yang nyaman,dua orang sudah lanjut usianya duduk berehat-rehat. Pak Abu dan Pak Majid namanya. Yang Pak Abu membaca surat khabar manakala Pak Majid hanya duduk termenung jauh sambil hisap rokok daun.

Pak Abu:
Majid, engkau tengoklah berita hari ini. Ada orang sanggup jual anaknya.

Pak Majid:
Hmmmmm. Jawab Pak Majib macam acuh tak acuh je.

Pak Abu:
Kot pun terdesak nak duit janganlah jual anak. Banyak lagi cara nak dapat duit. Kerja kat pam minyak ke, jual kacang putih ke, jual surat khabar ke. Betul tak Majid…?

Pak Majid:
Hmmmmmmm… Sambil mengembus asap rokok daunnya keluar melalui hidungnya…

Pak Abu:
Kau ni kenapa Majid? Takkan berita ini kau tak ambil peduli ke? Ini melibatkan kemanusiaan tahu. Binatang pun tahu nak jaga anaknya.

Pak Majid:
Hmmmm….Nilah aku nak bagitau engkau. Kalaulah aku masa muda-muda dulu..Aku jual je anak-anakku tu..

Pak Abu:
 Hah??? Engkau biar betul Majid!

Pak Majid:
Hoii.. Engkau sedar tak sekarang ni berada di mana? Sedarlah Abu….Kita sekarang di RUMAH ORANG TUA. Kalaulah aku tahu perangai anak-anak aku tu macam nilah, dah lama dah aku jual budak-budak tu!

Pak Abu:
Ye tak ye jugak...hihihihihi….


Ketika manusia beranjak dewasa, jalan hidup memilihkannya alur untuk memulai kehidupan mandiri. Pikirannya semakin berkembang, dan kemauannya semakin kompleks, dan semua menunggu untuk terpenuhi. Area hidup yang semula dalam asuhan orang tua, namun seiring dengan berlalunya waktu, kita diajukan pada berbagai pilihan hidup yang tak jarang membentangkan jarak yang menjauhkan dari orang tua.
Tuntutan hidup inilah yang akhirnya mau tidak mau mendesak para orang tua untuk rela melepaskan anak- anaknya jauh dan memilih jalan takdir mereka sendiri. Rela tidak rela, namun tanpa kuasa mereka harus merelakannya. Segenap doa mereka panjatkan kepada sang maha hidup agar anak- anak mereka selalu dalam pengawasan terbaikNya.
Ketika kesuksesan sudah digenggaman, sang anakpun berbangga dan berbahagia. Namun hal itu belum seberapa jika dibandingkan dengan kebahagiaan sejati para orang tua. Mungkin dari mereka banyak yang tidak ikut menikmati, namun begitulah orang tua, melihat kebahagiaan anak- anak mereka, itu sudah lebih dari cukup.
Para orang tua tidak menuntut harta atau cipratan kemuliaan dari anak- anak mereka. Bahkan kalau mereka berpunya, justru mereka yang akan dengan sukarela membagi- bagikan semua yang mereka miliki kepada anak- anak mereka.
Setelah semuanya telah terengkuh, namun kebanyakan dari kita melupakan satu hal. Waktu seakan sudah melenakan kita dari satu detikpun untuk berkirim kabar atau sekedar mengetahui keadaan orang tua terkasih, apalagi sampai mengunjunginya. Masih ingatkah kita, ketika kecil dulu, bahkan semua waktu hanya tercurah untuk kita, seakan dunia orang tua telah kita beli dengan kepengurusan atas diri kita. Tapi sekarang… keadaan itu berbalik dengan yang kebanyakan kita lakukan sebagai balas jasa kita untuk mereka.
Pahamilah hati orang tua dengan bayangan bahwa nanti ketika saat itu tiba untuk kita. Saat dimana kitapun akan menua. Ketika belahan hati telah jauh, yang diharapkannya hanya ketulusan perhatian lewat kunjungan ataupun hanya sekedar pembicaraan singkat lewat telefon. Bayangkan ketika orang tua harus melewati hari- harinya dalam kesepian dan sendirian. Ibaratnya, susah payah dan sakit badan serta hatipun harus mereka tanggung sendiri. Sedangkan anak yang mereka telah besarkan dengan susah payah dan penuh pengorbanan, kini telah pergi untuk berbahagia dengan kehidupannya sendiri.
Sungguh, para orang tua tidak akan menuntut untuk berbagi kebahagiaan itu, bahkan mungkin sebagian dari mereka coba untuk berbicara dengan diri dan menyediakan sejuta pemakluman, bahwa siklus hidup memang begitulah adanya. Tapi bukankah mereka adalah orang tua kita? mereka yang berjasa sampai kita pada level sekarang ini. Mereka masih dan akan tetap berhak atas kita. Jika kita membaiki orang lain, lebih diutamakan dahulu kita harus berbuat baik kepada orang tua.
Begitulah ketika orang tua harus melewati babak akhir dari kehidupannya. Walaupun begitu banyak harta kekayaan yang dimiliki, toh semua hanya benda mati yang tidak memberi rasa dan membangkitkan gairah hidup mereka. Walaupun absennya hadiah atau buah tangan dari anak- anak dan cucu mereka saat mengunjungi dan memperhatikannya, itu tidak masalah, karena sungguh kedamaian hati itulah yang tak bisa terbeli
Kalau saja usia tidak menuakan mereka, selamanya mereka akan tetap mengasuh kita. Mereka tak akan peduli seberapa dewasa dan mandirinya anak- anak mereka, orang tua tetaplah orang tua. Mereka akan tetap memelihara dengan kasih sayang yang paling paten kualitasnya untuk kita. Tidak ada balasan, tidak masalah. Tidak ada penghargaan, bukan hal yang perlu dirisaukan. Itulah orang tua.
Apakah anda termasuk orang yang sukses sekarang? kalau jawabannya adalah ya, pertanyaan selanjutnya adalah, apa kabar orang tua anda yang jauh disana?.
Kesuksesan tidak berarti apa- apa jika kita mengesampingkan dan atau bahkan membuang arti kasih dari orang tua. Kemuliaan yang kita raih sebagai bukti kerja keras, tidak akan memuliakan kita jika hal itu justru menggiring kita untuk mendapat titel anak durhaka.
Suatu hari kitapun insyaallah akan menjadi seperti mereka. Dan bila saat itu datang, kitapun ingin mendapatkan perlakuan sebaik- baiknya. Allah maha mengetahui dan maha adil terhadap hamba- hambanya, bagaimana perlakuan kita terhadap orang tua, siapa yang bisa menebak jika perlakuan yang sama akan kita terima kelak dari anak- anak kita. Tentunya, manusia yang cerdas tidak akan salah membuat `investasi` yang akan dia panen sendiri dimasa depan.
Ranking: 5

Comments:5

14 October, 2011 01:36

Entahlah zaman sekarang ni nilai kemanusiaan dan kasih sayang semakin dingin.

14 October, 2011 08:20

@BLUEDIANTHUS
Betul tu...sikap hormat kepada kedua ibu bapa pun makin lumpur ...ramai anak2 muda yg lupa atas jasa dan pengirbanan ibu bapa mereka yang pernah mendidik dan membesarkan mereka....

14 October, 2011 08:26

betul tu, semakin ramia menajdi penghuni rumah orang tua.. ibu bapa boleh menjaga berpuluh anak, tapi berpuluh anak belum tentu boleh menjaga sepasang ibu bapa.. huhuhu sedih

14 October, 2011 10:59

@Isteri Encek Bardkita harus sedar akan pgorbanan yg di berikan oleh kedua org tua kita...yang harus di utamakan dlm khidupan kita adlah ayah dan ibu kita...lagi2 anak lelaki tanggungjawap dia besar...bila dah berkahwin tanggungjawap kepada ayah dan ibu masih harus di jaga...

07 November, 2011 16:17

wahh.. segitunya

Post a Comment

Komehlah dan klik G+ di atas sekali okey^^

 
Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net